Langara, umbaran.id – Kemarau panjang yang melanda hingga ke pelosok Negeri delapan bulan terakhir berdampak pada kekeringan. Di Kabupaten Konawe Kepulauan (Konkep) misalnya, Desa Wawo Indah Kecamatan Wawonii Tengah sudah mulai terdampak hingga warganya kesulitan mendapat air bersih.
Karena itu, Pemkab Konkep langsung tanggap, mendistribusikan bantuan air bersih melalui Satuan Polisi Pamong Praja dan Damkar dengan menggunakan dua unit mobil pemadam kebakaran dengan kapasitas masing-masing 4.000 kilo liter, Rabu (21/10/2026).
Kepala Dinas Satuan Polisi Pamong Praja dan Damkar Konkep, Sudarmin, S.H mengatakan, pendistribusian air bersih dilakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat yang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih akibat kekeringan.
“Kalau misalnya belum tercukupi, kita tetap distribusikan, hingga tercukupi kebutuhannya,” jelasnya.

Kata ia, Pemkab akan terus menyalurkan bantuan sesuai permintaan kebutuhan masyarakat dan kemampuan distribusi yang tersedia dengan menyampaikan permohonan secara tertulis kepada Pemkab Konkep.
“Saat ini baru satu desa yang bersurat meminta bantuan air bersih, informasi yang kami dapatkan, ada Desa Puuwulu Kecamatan Wawonii Tengah juga, tapi kita masih menunggu surat dari Kepala Desanya,” ungkapnya.
Sementara itu, Penjabat Sementara (Pjs.) Kepala Desa Wawonii Indah, Daniel, mengungkapkan, berdasarkan data, terdapat 105 Kepala Keluarga (KK) dengan 77 rumah di Desa Wawonii Indah 15 rumah diantaranya belum terdampak karena masih mengandalkan sumur bor.
“Sementara 62 rumah sudah terdampak kesulitan air bersih,” jelasnya.
Meski demikian kata Daniel, pihaknya sudah mengantisipasi kesulitan air bersih dengan menganggarkan pembangunan dua unit sumur bor tahun ini dengan menyesuaikan dengan kemampuan anggaran Dana Desa (DD).
“Dulu pertama kali program transmigrasi ada sumur bor dengan kedalaman 80 meter, itu juga akan dibenahi. Namun, ini baru saran warga, nanti penentuannya saat Musdes,” ujarnya.
Di tempat yang sama, Sekretaris Desa Wawonii Indah, I Wayan Rian Udiana, mengungkapkan bahwa kekeringan menjadi persoalan yang terjadi hampir setiap tahun. Kondisi tersebut berdampak pada sumur gali maupun sumur bor milik warga.
“Sebelum ada bantuan air bersih, sebagian masyarakat terpaksa mengambil air dari sumber darurat yang lokasinya jauh dan harus ditempuh melalui medan menanjak. Bahkan, beberapa warga memilih membeli air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” tandasnya. (Eki)












