Langara, umbaran.id – Semarak Festival Bahari, Mekoloro dan Meoti-oti dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-13 Kabupaten Konawe Kepulauan resmi berakhir pada Minggu (17/5/2026). Ajang mancing moderen maupun tradisional yang menjadi bagian dari festival bahari tersebut sukses menyedot perhatian masyarakat dan komunitas pemancing dari berbagai daerah di Sulawesi Tenggara (Sultra) hingga luar daerah.
Setelah melalui proses penimbangan hasil tangkapan untuk kategori pemancing moderen Tim Morowali Fishing Club (MORFINC) tampil sebagai jawara dengan total hasil tangkapan mencapai 40,5 kilogram, keberhasilan tersebut mengantarkan tim asal Morowali itu keluar sebagai juara umum Festival Mekoloro 2026.
Posisi runner-up diraih Tim Libra Fishing asal Konkep dengan total tangkapan seberat 39,5 kilogram. Sementara peringkat ketiga berhasil diamankan Tim Lawata Fishing, tim pemancing asal Kendari, dengan total berat tangkapan ikan 39,2 kilogram.
Sedangkan untuk kategori pemancing tradisional, Tim Tekonea 1 dengan total berat tangkapan 55,65 kilogram, juara ke dua diraih Tim A1 dengan total berat tangkapan 26,4 kilogram. Juara ke tiga diraih Tim Tekonea 5 dengan berat tangkapan 25,6 kilogram.
Festival yang berlangsung sejak Jumat, 15 hingga 17 Mei 2026 itu diikuti ratusan peserta. Antusiasme masyarakat terlihat begitu tinggi selama perlombaan berlangsung.
Bupati Konkep, Rifqi Saifullah Razak, usai menyerahkan hadiah kepada para pemenang mengungkapkan bahwa Festival Mekoloro, Meoti-oti dan humulu menjadi salah satu event bahari yang memiliki daya tarik.
Meoti-oti dan humulu misalnya selama pelaksanaan lomba, total hasil perolehan kurang lebih 700 kilogram dalam waktu sekitar empat jam dengan jumlah peserta mencapai ratusan orang.
Meoti-oti dan humulu ini sambungnya, adalah tradisi masyarakat Wawonii untuk mencari kerang dan ikan dengan cara tradisional dari potensi bahari yang dimiliki Pulau Wawonii.
“Animo masyarakat luar biasa. Ini menunjukkan Festival Mekoloro, Meoti-oti dan humulu memiliki potensi besar menjadi event tahunan,” ujarnya.
Meski demikian, pemerintah daerah tetap akan melakukan evaluasi untuk pelaksanaan event berikutnya, termasuk mempertimbangkan kondisi cuaca dan keamanan peserta mancing.
Kata ia, pelaksanaan festival ke depan kemungkinan akan digeser pada Oktober atau November agar kondisi perairan lebih aman dan nyaman bagi peserta.
“Hobi mancing, Meoti-oti dan humulu ini patut diapresiasi. Selain menjadi hiburan dan olahraga, kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahmi keluarga besar masyarakat Wawonii sekaligus menjadi sarana promosi potensi wisata bahari dan kekayaan laut Pulau Wawonii kepada masyarakat luas,” tandasnya. (Eki)












