Langara, umbaran.id – Kirab Budaya yang dikemas dalam Festival Pulau Wawonii yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Konawe Kepulauan (Konkep), Rabu (20/5/2026), disambut meriah ribuan masyarakat Pulau Wawonii.
Setidaknya ada enam paguyuban etnik besar yang mendiami Pulau Wawonii turut ambil bagian dalam pagelaran budaya tersebut.
Enam paguyuban etnik itu yakni Kerukunan Keluarga Bajo, Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan, Kerukunan Keluarga Wawonii Tolaki, Kerukunan Keluarga Muna Wawonii, Kerukunan Keluarga Buton Wawonii, dan Kerukunan Keluarga Menui Wawonii.
Dalam arak-arakan pawai budaya itu, “Kalapaeya” menjadi simbol utama yang menghiasi setiap barisan peserta.
Bupati Konawe Kepulauan, Rifqi Saifullah Razak usai pelaksanaan kegiatan mengatakan, Festival Budaya tahun ini bertepatan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-118 Tahun 2026, momentum itu dinilai menjadi simbol bangkitnya kembali nilai-nilai budaya dan tradisi masyarakat Wawonii serta etnik lainnya yang hidup berdampingan di Pulau Wawonii.
Menurutnya, kirab budaya ini menjadi penegasan kuat atas keberagaman dan harmonisasi kehidupan masyarakat dalam bingkai kebhinekaan.
“Kirab Budaya tahun 2026 ini merupakan kirab budaya pertama di Kabupaten Konawe Kepulauan yang diikuti seluruh etnis besar yang mendiami Pulau Wawonii. Sebanyak 45 barisan dan 3.500 peserta, serta 120 santri peserta Khatam Al-Qur’an, dan 52 paket Kalapaeya,” bebernya.
Karena itu, melalui kegiatan ini, ia berharap menjadi momentum akselerasi pembangunan budaya, sosial, dan ekonomi masyarakat, sekaligus memperkuat kecintaan terhadap budaya daerah dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menjaga warisan leluhur.
“Kalapaeya sendiri merupakan properti adat sakral masyarakat Wawonii yang diperuntukkan sebagai bentuk penghormatan kepada keturunan bangsawan atau mokole. Tradisi ini dibuat dari anyaman pelepah sagu sebagai wadah makanan yang kemudian dinikmati bersama sebagai simbol persatuan, gotong royong, dan keterikatan batin masyarakat Wawonii,” terangnya.
Sejalan dengan visi menuju Wawonii EMAS (Ekonomi Maju, Adil dan Sejahtera) Berkelanjutan Tahun 2030, sambungnya, festival Wawonii merupakan upaya menjaga dan merawat identitas daerah serta menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya dan warisan leluhur di tengah arus modernisasi.
“Kirab Budaya Festival Pulau Wawonii juga menjadi manifestasi perpaduan antara simbol keagamaan dan budaya religius yang dikemas melalui parade Khatam Al-Qur’an, parade Kalapaeya, kontau, serta carnaval tenun tradisional,” tandasnya. (Eki)












