Catatan : Rezky Aulia Ramadhani
Di tengah riuh tabuh gendang, gong dan sorak masyarakat yang memadati jalanan Kota Langara, ada satu pemandangan yang begitu mencuri perhatian dalam arak-arakan Festival Wawonii. Sejumlah pria berjalan perlahan sambil memikul “Kalapaeya”, simbol budaya masyarakat Wawonii yang kini mulai jarang terlihat dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi sebagian generasi orang, Kalapaeya mungkin hanya dianggap sebagai bagian dari pertunjukan budaya. Namun bagi masyarakat adat Wawonii, benda itu menyimpan jejak sejarah panjang tentang kehidupan, kebersamaan dan penghormatan terhadap warisan leluhur.
Kirab budaya yang digelar Pemerintah Kabupaten Konawe Kepulauan (Konkep), Rabu (20/5/2026), seakan menjadi ruang untuk menghidupkan kembali ingatan kolektif masyarakat terhadap tradisi yang perlahan mulai tergerus zaman.
Di bawah rintik hujan, para pemikul Kalapaea tetap berjalan tegap mengenakan pakaian adat.
Iringan gendang dan gong membuat suasana terasa sakral sekaligus mengharukan. Warga yang berdiri di pinggir jalan tampak antusias menyaksikan prosesi tersebut. Banyak di antaranya mengabadikan momen menggunakan gawai mereka, seolah tak ingin kehilangan jejak budaya yang semakin langka itu.
“Zaman dahulu kalapaeya adalah properti adat sakral masyarakat Wawonii yang diperuntukkan sebagai bentuk penghormatan kepada keturunan bangsawan atau mokole. Di era sekarang, Kalapeaya ini adalah simbol persatuan dan penghormatan kepada leluhur,” jelas Ketua Lembaga Adat Wawonii, Husain Mahalik, saat dikonfirmasi, Rabu (20/5/2026) malam.
Dulu, tradisi-tradisi seperti ini begitu akrab dalam kehidupan masyarakat Pulau Wawonii. Namun seiring perkembangan zaman, modernisasi perlahan menggeser sejumlah kebiasaan adat.
Generasi muda lebih banyak mengenal budaya luar dibanding memahami warisan daerahnya sendiri.
Karena itu, Festival Wawonii tidak hanya menjadi hiburan tahunan, tetapi juga ruang edukasi budaya.
Pemkab Konkep bersama lembaga adat Wawonii berupaya menghadirkan kembali tradisi-tradisi lama agar tetap dikenali dan dicintai oleh generasi muda.
Di sepanjang kirab berlangsung, Kalapaeya seolah menjadi pengingat bahwa Pulau Wawonii memiliki identitas budaya yang kuat. Tradisi boleh tua, tetapi nilai yang diwariskannya tetap relevan; kebersamaan, gotong royong dan penghormatan terhadap akar sejarah.
Festival mungkin akan usai, keramaian akan perlahan reda. Namun harapan masyarakat sederhana, agar Kalapaeya dan warisan budaya Wawonii lainnya tidak berhenti sebagai tontonan seremonial semata, melainkan terus hidup di hati generasi mendatang.**
