Daerah

Lembaga Adat Wawonii Pentaskan Tarian Tradisional “Kamori-mori” Saat Pembukaan Wonderful Wawonii

×

Lembaga Adat Wawonii Pentaskan Tarian Tradisional “Kamori-mori” Saat Pembukaan Wonderful Wawonii

Sebarkan artikel ini

Langara, umbaran.id – Meski belum lama terbentuk Lembaga Adat Wawonii (LAW) terus berupaya melestarikan budaya masyarakat Wawonii. Satu persatu-satu mulai dipentaskan, salah satunya adalah tarian tradisional “Kamori-mori” yang dipersembahkan saat acara pembukaan Wonderful Wawonii di panggung kesenian Konkep di eks TPI Langara, Kamis (14/5/2025).

Dalam sinopsisnya yang ditulis oleh Dermawan Toarima, S.Pd.,M.Si, tarian Kamori-mori terinspirasi dari cerita Durudalewula dan Wulangkinokoti yang saling mencintai, namun hubungan meraka tidak mendapat restu dari orang tua Wulangkinokoti, perbedaan pandangan, kehormatan keluarga menjadi penghalang bersatunya cinta mereka.

Dalam keterbatasan dan tekanan keluarga, keduanya tetap mempertahankan rasa cinta yang tulus. Namun seiring waktu, harapan untuk hidup bersama semakin sirna. Kesedihan, penolakan, dan penderitaan batin akhirnya membawa keduanya pada keputusan tragis: mengakhiri hidup bersama (mekasusuru) di air terjun Tumburano.

Tari ini mengilustrasi tatanan hidup feodalisme masa lalu yang mengekang hak asasi kebebasan berinteraksi karena adanya strata sosial, sehingga timbul kekerasan humanis yang membatasi kemerdekaan hak-hak individu dan sosial pada masyarakat Wawonii tempo dulu.
Kamori-Mori adalah alat musik tiup tradisional Wawonii yang menjadi nama tarian ini.

Tari Kamori-Mori mencerminkan ekspresi kelembutan, kesantunan, kesetiaan, kesabaran, kepatuhan, dan sikap hormat terhadap laki-laki. Setiap pola gerakan dalam tarian Kamori-Mori memiliki makna tersendiri. Tarian ini diawali dengan penghormatan, dan diakhiri dengan posisi duduk sebagai tanda hormat dan santun para penari.

Pola gerakan memutar bermakna siklus hidup manusia yang selalu dinamis. Pola gerakan memutar yang dimainkan adalah gerakan memutar searah jarum jam.

Kemudian pola gerakan naik turun melambangkan kehidupan manusia yang kadang berada di bawah dan kadang di atas. Pola gerakan ini mengingatkan akan pentingnya kesabaran manusia dalam menghadapi kenyataan hidup. Tarian ini diiringi musik tradisional Kamori-Mori, gendang dan gong.

Tugas dari kelompok musik adalah mengiringi para penari dengan tabuhan gendang dan gong sebagai pengantar irama musik dan juga memainkan alat musik tiup berupa Kamori-Mori.

Keunikan yang dimiliki tarian Kamori-Mori adalah aturan bagi para penari dalam memainkan tarian ini. Para penari tidak diperkenankan membuka mata terlalu lebar dan mengangkat kaki terlalu tinggi. Hal ini dikarenakan aspek kesopanan dan kesantunan sangat diutamakan dalam tarian ini.

Masyarakat Wawonii percaya bahwa tarian Kamori-Mori membawa suatu pesan bahwa dalam menjalani hidup dan kehidupan ini kita senantiasa ikhlas dan sabar. Masyarakat Wawonii biasanya mementaskan tari Kamori-Mori di acara-acara adat atau acara-acara hiburan.

Selain memiliki nilai hiburan dan nilai filosofi bagi masyarakat Wawonii, tarian ini juga menjadi salah satu daya tarik pariwisata bagi Kabupaten Konawe Kepulauan Provinsi Sulawesi Tenggara.
Struktur Tim Tari Tradisonal Kamori-Mori. (Eki)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *